Aksi Demonstrasi Reformasi Jilid II Di Kota Ambon ,  Adalah Bentuk Perlawanan terhadap Ketidakadilan dan Ketimpangan

140

Ambon, ZonaMaluku – 17 Juni 2026 Gelombang aksi Reformasi Jilid II: Dari Timur untuk Indonesia menggema di Kota Ambon. Ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, dan komunitas rakyat turun ke jalan menyampaikan aspirasi terkait berbagai persoalan nasional dan daerah yang dinilai semakin membebani kehidupan masyarakat.

Dalam orasinya, Samil Rahareng menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa dalam menjawab masalah masalah bangsa serta memastikan negara tetap berpihak kepada rakyat.

Menurutnya, kondisi bangsa saat ini sedang menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, meningkatnya biaya hidup masyarakat, naiknya harga kebutuhan pokok, hingga berbagai kebijakan yang dinilai tidak menyentuh kebutuhan riil rakyat.

“Kami hadir di jalan bukan untuk menciptakan kegaduhan, tetapi untuk menyampaikan apa yang kemudian di cita-cita citakan rakyat yang selama ini belum sepenuhnya didengar. Ketika kehidupan masyarakat semakin sulit, ketika demokrasi mengalami kemunduran, dan militerisme masuk tanah sipil di saat ketimpangan terus terjadi, maka mahasiswa memiliki kewajiban untuk berdiri bersama rakyat,” tegas Samil Rahareng di hadapan massa aksi.

Ia juga menyoroti kondisi Maluku yang hingga kini masih menghadapi ketimpangan pembangunan meskipun memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Menurutnya, paradigma pembangunan nasional masih belum memberikan keadilan bagi daerah daerah kepulauan.

“Maluku tidak membutuhkan belas kasihan, tetapi membutuhkan keadilan. Sudah terlalu lama daerah kepulauan ditempatkan dalam posisi yang tidak setara dalam kebijakan pembangunan nasional. Karena itu kami menuntut hadirnya kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kepulauan dan masyarakat adat dalam hal ini pengesahan RUU Kepulauan dan UU Perlindungan Masyarakat Adat,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya reformasi tata kelola pemerintahan, stabilisasi ekonomi nasional, penguatan supremasi sipil, evaluasi program-program strategis nasional, percepatan pengesahan RUU Masyarakat Adat dan RUU Daerah Kepulauan, peningkatan investasi pada sektor pendidikan dan kesehatan, serta reformulasi kebijakan fiskal yang lebih adil bagi Provinsi Maluku.

Samil menegaskan bahwa gerakan Reformasi Jilid II bukan sekadar aksi sesaat, melainkan bagian dari perjuangan berkelanjutan untuk menghadirkan keadilan sosial, demokrasi yang sehat, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Reformasi tidak boleh berhenti menjadi catatan sejarah tahun 1998. Reformasi harus terus hidup sebagai semangat untuk melawan ketimpangan, penyalahgunaan kekuasaan, dan segala bentuk kebijakan yang menjauh dari kepentingan rakyat. Dari Timur untuk Indonesia, kami akan terus mengawal perjuangan ini,” tutupnya.

Aksi berlangsung secara damai dengan pengawalan aparat keamanan dan diikuti oleh mahasiswa, pemuda, organisasi masyarakat, komunitas, serta berbagai elemen sipil yang menyatakan dukungan terhadap agenda Reformasi Jilid II.(ZM)