Gubernur Maluku Dorong Penguatan Infrastruktur Sumber Daya Air Dan Ketahanan Wilayah Kepulauan 

3

JAKARTA, Zonamaluku — Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, bersama sejumlah kepala daerah di Maluku melakukan pertemuan dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) guna membahas kebutuhan infrastruktur sumber daya air, pengendalian abrasi, hingga penyediaan air bersih di wilayah kepulauan Maluku. Pertemuan ini berlangsung di Ruang rapat Ditjen Sumber Daya Air, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026).

Dalam penyampaiannya, Lewerissa menegaskan bahwa Maluku saat ini memiliki tiga Proyek Strategis Nasional (PSN), yakni pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, pembangunan Bendungan Way Apu di Kabupaten Buru, serta pembangunan Ambon New Port atau Maluku Integrated Port di Pulau Ambon.

Khusus terkait Bendungan Way Apu, Hendrik menyebut proyek tersebut menjadi sangat penting dalam mendukung program swasembada pangan nasional.

“Diperkirakan pada tahun 2027 bendungan itu sudah dapat berfungsi dan mengairi sekitar 10 ribu hektare lahan persawahan. Ini tentu menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional,” ujarnya.

Menurut Lewerissa Kabupaten Buru merupakan salah satu sentra pangan utama di Maluku, bersama Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, dan Seram Bagian Timur.

Selain persoalan pangan, Lewerissa juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi Maluku sebagai provinsi kepulauan dengan lebih dari 1.400 pulau.

“Wilayah kami lebih dari 92 persen adalah lautan. Karena itu dampak perubahan iklim sangat kami rasakan, terutama bagi masyarakat pesisir yang menghadapi ancaman abrasi,” katanya.

Dirinya mengatakan abrasi di wilayah pesisir Maluku semakin masif dalam beberapa tahun terakhir sehingga pemerintah daerah berharap ada dukungan pemerintah pusat dalam pembangunan talud pengaman pantai dan penanganan kawasan bantaran sungai.

Selain itu, persoalan air bersih juga menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Maluku.

“Tidak semua pulau di Maluku memiliki ketersediaan air bersih yang memadai. Masih banyak masyarakat di pulau-pulau kecil yang kesulitan mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya

Lewerissa menambahkan, keterbatasan ruang fiskal daerah membuat pemerintah daerah sangat bergantung pada dukungan pemerintah pusat untuk pembangunan infrastruktur dasar.

“Karena itu, satu-satunya cara yang dapat kami lakukan adalah menyiapkan perencanaan yang baik, kemudian datang menyampaikan langsung kebutuhan daerah kepada pemerintah pusat,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, pihak Direktorat Jenderal SDA Kementerian PU menyatakan komitmennya untuk mendukung pembangunan infrastruktur sumber daya air di Maluku secara bertahap.

Perwakilan Ditjen SDA menyampaikan bahwa Bendungan Way Apu di Pulau Buru memang ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada tahun 2027.

“Salah satu proyek yang menjadi perhatian kami adalah Bendungan Way Apu di Pulau Buru, yang memang ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada tahun 2027,” ucapnya

Ditjen SDA juga menilai Maluku membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda karena karakteristik wilayah kepulauan yang kompleks.

“Tipologi wilayah Maluku memang sangat berbeda dibanding daerah lain. Penanganannya tidak bisa disamakan karena wilayahnya kepulauan dan sangat kompleks,” katanya.

Selain Bendungan Way Apu, Ditjen SDA juga mulai mengkaji kebutuhan pembangunan infrastruktur air baku di Kepulauan Tanimbar sebagai dampak pengembangan Proyek Strategis Nasional Blok Masela.

“Kalau proyek Blok Masela mulai beroperasi, diperkirakan akan terjadi lonjakan jumlah penduduk yang cukup besar di Tanimbar. Karena itu kebutuhan air baku ke depan pasti akan meningkat sangat signifikan,” ujarnya.

Pihak Ditjen SDA juga meminta dukungan pemerintah daerah, terutama dalam penyelesaian persoalan lahan dan administrasi agar pelaksanaan proyek dapat berjalan lancar.

“Kalau ada persoalan lahan atau administrasi, mohon segera diselesaikan supaya ketika pekerjaan dimulai semuanya sudah clean and clear,” tegasnya.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Dr. Dedy Natrihfazhal Dedisky Nazaroeddin, S.E., M.Si.; Direktur Kepatuhan Irigasi, Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Sc.; Direktur Bina Teknik Sumber Daya Air, Ir. Birendrajana, M.T.; Direktur Sistem dan Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Air, Fikri Abdurrochman, S.T., M.Sc.; Plt. Direktur Sungai dan Pantai, Mochammad Dian Alma’ruf, S.T., M.T.; Plt. Direktur Bendungan dan Danau, Slamet Lestari, S.T., M.T.; Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan, A. Adi Umar Dani, S.T., M.T.; Plt. Direktur Irigasi dan Rawa, Dedi Yudha Lesmana, S.T., M.T.; Plt. Direktur Air Tanah dan Air Baku, Dr. Mohammad Firman, S.T., M.T.; Kepala Sekretariat Dewan Sumber Daya Air Nasional, Dr. Yunitta Chandra Sari, S.E., S.T., M.T.; serta Kepala Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo, Darweni D, S.T., M.Si. Sementara dari Pemerintah Provinsi Maluku dan pemerintah kabupaten/kota turut hadir Kepala Dinas PUPR Provinsi Maluku, Bupati Kepulauan Aru, Bupati Seram Bagian Timur, Bupati Kepulauan Tanimbar, Bupati Maluku Tenggara, serta Wali Kota Tual. (DISKOMINFO MALUKU/ZM)