-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Zona Maluku 2026
Ambon, Zonamaluku – Literasi urban dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan perkotaan, mulai dari persoalan sosial, lingkungan, ekonomi hingga tata kelola pemerintahan. Berangkat dari kebutuhan tersebut, LPMP menghadirkan kegiatan Urban Care Ambon 2026, sebuah ruang kolaborasi lintas sektor yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam memahami dan mengelola dinamika kehidupan perkotaan.
Kegiatan yang berlangsung di Kota Ambon ini menghadirkan akademisi, praktisi, pemerintah, legislatif, jurnalis lingkungan, hingga perwakilan sektor perbankan untuk berdiskusi dan berbagi gagasan mengenai masa depan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Ketua umum lembaga pemerhati masyarakat perkotaan (LPMP), Mahmud Latif, dalam sambutannya mengatakan bahwa pembangunan kota tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, komunitas, dunia pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
"Urban Care Ambon 2026 hadir sebagai wadah untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi urban. Kota yang maju tidak hanya ditandai oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dan berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan," ujar Mahmud.
Menurutnya, Urban Care Ambon 2026 akan dilaksanakan dalam tiga bentuk kegiatan utama. Pertama, Diskusi Terfokus 'Urban Coffee & Diskurs' yang menjadi ruang pertukaran gagasan dan refleksi kritis mengenai isu-isu perkotaan. Kedua, Pelatihan Digitalisasi Pemasaran dan Membangun Komunitas Halal, sebagai upaya meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan komunitas dalam memanfaatkan teknologi digital. Ketiga, Urban Camp, yang dirancang untuk membangun kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan, sosial, dan pembangunan kota.
Pada sesi pertama diskusi, peserta mendapatkan perspektif multidisipliner dari sejumlah narasumber, yakni psikolog dari Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD), sosiolog dari UIN AM Sangadji Ambon, Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Pelayanan Publik Pemerintah Kota Ambon Alex Hursepuny, serta Kepala Bidang Literasi KNPI Maluku M. Nasir Pariusamahu, M.Pd.
Diskusi tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari kesehatan mental masyarakat perkotaan, perubahan sosial di tengah perkembangan kota, peningkatan kualitas pelayanan publik, hingga pentingnya penguatan budaya literasi sebagai fondasi pembangunan masyarakat urban yang adaptif.
Sementara pada sesi kedua, forum menghadirkan anggota DPRD Provinsi Maluku Rovik Akbar Afifudin, SE, perwakilan Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Maluku Ipeh Alaidrus, serta perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Rahmad.
Para narasumber menyoroti pentingnya sinergi antara kebijakan publik, kesadaran lingkungan, dan transformasi ekonomi digital dalam menciptakan kota yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Rovik Akbar Afifudin menegaskan bahwa pembangunan perkotaan memerlukan kebijakan yang berpihak pada masyarakat sekaligus berorientasi pada keberlanjutan. Sementara Ipeh Alaidrus menyoroti pentingnya partisipasi publik dan peran media dalam mengawal isu lingkungan perkotaan. Adapun Rahmad dari Bank Indonesia menjelaskan peluang pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat daya saing ekonomi masyarakat.
Melalui Urban Care Ambon 2026, LPMP berharap lahir berbagai gagasan, inovasi, dan kolaborasi yang dapat mendorong terwujudnya Kota Ambon sebagai kota yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas literasi, partisipasi warga, serta kemampuan masyarakat dalam merespons perubahan zaman secara bijaksana dan produktif.(ZM)