-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Zona Maluku 2026
Ambon, 16 Maret 2026 — Koalisi Milenial Inklusif Maluku menggelar kegiatan Konsolidasi dan Dialog Lintas Pemuda bertajuk “Hidop Orang Basudara: Reclaiming Nilai Pela-Gandong sebagai Strategi Pencegahan Konflik Pemuda di Batu Merah” pada Senin (16/3) di Nutrihub, Hunut/Durian Patah, Kota Ambon.
Kegiatan ini mempertemukan pemuda dari berbagai komunitas, termasuk pemuda Kei dan Kailolo, dalam ruang dialog bersama guna membangun komunikasi, memperkuat kepercayaan, serta merumuskan langkah-langkah pencegahan konflik di kalangan generasi muda di wilayah Batu Merah.
Dialog ini dilatarbelakangi oleh pengalaman panjang konflik sosial di Maluku, khususnya konflik sektarian yang pecah pada 1999 dan meninggalkan dampak besar bagi relasi sosial masyarakat. Peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bahwa harmoni sosial perlu terus dirawat melalui dialog dan penguatan nilai-nilai lokal.
Dalam konteks kehidupan perkotaan saat ini, konflik antar pemuda sering muncul dalam bentuk yang berbeda, seperti kesalahpahaman antar komunitas, konsumsi alkohol, hingga penyebaran informasi provokatif melalui media sosial yang dapat mempercepat eskalasi konflik.
Program Manager YPPM Maluku, Na’am Seknun, dalam pemaparannya menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai kearifan lokal Maluku seperti Pela-Gandong dan prinsip Hidop Orang Basudara sebagai fondasi memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Na’am juga menyoroti bahwa upaya perdamaian tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan dalam komunitas. Menurutnya, perempuan memiliki kontribusi penting dalam menjaga komunikasi, merawat relasi sosial di tingkat keluarga maupun komunitas, serta menjadi penggerak nilai-nilai damai dalam kehidupan sehari-hari
“Perempuan sering menjadi penjaga relasi sosial di komunitas. Karena itu, peran perempuan sangat penting dalam menjaga ruang dialog, merawat empati, dan memastikan nilai hidop orang basudara tetap hidup dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, jurnalis senior sekaligus pegiat perdamaian Embong Salampessy turut memberikan perspektif mengenai pentingnya literasi informasi di tengah masyarakat untuk mencegah provokasi yang kerap memicu konflik di tingkat akar rumput.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Dorisco Kainama Penerima Beasiswa LPDP Pendidikan Studi Konflik dan Perdamaian di Universitas Queensland, Australia, dengan pendekatan participatory dialogue dan youth-led peacebuilding, yang mendorong peserta berbagi pengalaman konflik, mendengarkan perspektif satu sama lain, serta membangun empati lintas komunitas.
Dalam sesi diskusi kelompok, peserta membahas berbagai faktor yang memicu konflik antar pemuda, pola provokasi yang sering terjadi, serta pengaruh media sosial dalam memperbesar ketegangan.
Sebagai hasil dari dialog ini, para peserta menyusun Youth Peace Commitment, yaitu komitmen bersama antara pemuda Kei dan Kailolo untuk menjaga komunikasi, menghindari provokasi, serta berperan aktif dalam menjaga perdamaian di lingkungan mereka.
Temuan dari dialog ini juga akan didokumentasikan sebagai bahan penyusunan policy brief yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam memperkuat strategi pencegahan konflik berbasis komunitas di Kota Ambon.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai organisasi kepemudaan dan mahasiswa di Kota Ambon.
Melalui dialog ini, Milenial Inklusif Maluku berharap generasi muda dapat menjadi aktor utama dalam menjaga perdamaian serta merawat kembali nilai-nilai persaudaraan yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Maluku. (ZNG)