-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Zona Maluku 2026
Bima, ZonaMaluku — Kabar membanggakan. Anis Nur Istiqomah, putri pertama pasangan Ayub dan Juhani yang berasal dari Nipa, Kecamatan Ambalawi. Berhasil meraih Winner Duta Hijab Nusantara dalam ajang yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, bukan hanya bagi Anis dan keluarganya, tetapi juga bagi daerah asalnya, Nipa, Kecamatan Ambalawi. Di balik mahkota yang kini disandangnya, tersimpan perjalanan panjang seorang perempuan muda yang tumbuh dari keluarga sederhana dan tidak pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.
Anis Nur Istiqomah lahir dan tumbuh di Nipa, Kecamatan Ambalawi. Ia merupakan putri pertama dari Ayub dan Juhani. Saat ini, Anis sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Bima. Perjalanannya sebagai mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam prosesnya membangun diri, memperluas pengalaman, dan mengembangkan potensi.
Anis lahir dari rahim seorang petani. Kehidupan yang sederhana justru menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk keteguhan dirinya. Dari keluarga dan lingkungan tempat ia tumbuh, Anis belajar bahwa sebuah mimpi tidak harus lahir dari keadaan yang sempurna. Mimpi dapat tumbuh dari kesederhanaan, selama seseorang memiliki kemauan untuk memperjuangkannya.
Jalan menuju pencapaian tentu tidak selalu mudah. Anis pernah merasakan kegagalan. Pernah ada proses yang tidak berjalan sesuai harapan, ada lelah yang harus ditahan, dan ada langkah yang sempat membuatnya bertanya apakah perjuangannya akan sampai pada tujuan. Namun, kegagalan tidak membuatnya memilih berhenti.
Ia kembali mencoba, belajar dari setiap pengalaman, memperbaiki kekurangan, dan melanjutkan langkahnya. Hingga akhirnya, kesempatan itu datang dan mengantarkannya menjadi Winner Duta Hijab Nusantara, di tengah persaingan dengan peserta yang datang dari berbagai daerah.
Bagi Anis, kemenangan tersebut bukan sekadar tentang mahkota yang dikenakan atau gelar yang disandang. Lebih dari itu, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa seorang perempuan dari daerah pun memiliki kesempatan untuk berdiri di ruang yang lebih luas dan menunjukkan kemampuannya.
Perjalanan Anis juga menjadi gambaran bahwa latar belakang keluarga bukanlah batas bagi seseorang untuk memiliki cita-cita. Terlahir sebagai anak seorang petani tidak membuatnya merasa harus berjalan dengan mimpi yang kecil. Justru dari kesederhanaan itulah tumbuh tekad untuk terus belajar, berproses, dan membuktikan bahwa kerja keras dapat membawa seseorang menuju tempat yang sebelumnya mungkin hanya berani ia bayangkan.
Sebagai perempuan berhijab, Anis juga ingin membawa pesan bahwa hijab bukan penghalang untuk berprestasi. Hijab menjadi bagian dari identitas dan keyakinannya, sementara pendidikan, pengalaman, dan prestasi menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus mengembangkan diri.
Gelar Winner Duta Hijab Nusantara yang berhasil diraihnya kini bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Anis ingin menjadikan pencapaian tersebut sebagai ruang untuk menginspirasi perempuan lain agar berani keluar dari keraguan, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah hanya karena pernah gagal.
Kisah Anis mengajarkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari tempat yang besar. Terkadang, ia bermula dari sebuah desa kecil, dari keluarga sederhana, dari doa orang tua, dan dari seorang anak yang memilih untuk terus berjalan meski berkali-kali menemukan kegagalan.
Dari Nipa, Kecamatan Ambalawi, Anis membawa sebuah pesan sederhana: latar belakang bukanlah batasan untuk bermimpi.
Hari ini, ia berdiri sebagai Winner Duta Hijab Nusantara. Namun, di balik gelar itu tetap ada seorang anak dari keluarga sederhana yang pernah lelah, pernah gagal, tetapi memilih untuk bangkit dan mencoba kembali.
Sebab pada akhirnya, bukan tentang dari mana seseorang berasal, melainkan seberapa kuat ia mempertahankan tekad untuk sampai pada tujuan.(ZM)