-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Zona Maluku 2026
Ambon, 29 September 2026 — Timur Menulis menutup rangkaian kegiatan Semesta Raya Sastra 1.0 bertema “Sastra dan Budaya Timur Indonesia” melalui diskusi buku Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama. Kegiatan berlangsung di Auditorium Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pattimura Ambon, Selasa (29/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra, Kementerian, Direktorat Jenderal Pengembangan dan Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.
Diskusi kali ini menghadirkan Sasti Gotama sebagai penulis dan Riyan Suatrat sebagai moderator. Diskusi diikuti oleh mahasiswa, pegiat sastra, dan peserta dari berbagai latar belakang.
Dalam membuka diskusi, Riyan Suatrat menyampaikan bahwa pertemuan dengan penulis memberikan pengalaman yang berbeda bagi pembaca. Menurutnya, pembaca tidak hanya menikmati cerita melalui buku, tetapi juga dapat memahami proses, pengalaman, serta gagasan yang melatarbelakangi lahirnya sebuah karya.
“Biasanya kita membaca buku hanya melalui ceritanya, tetapi hari ini kita akan bertemu dengan penulisnya,” ujar Riyan.
Sasti Gotama, penulis Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, kemudian membagikan pengalaman dan proses kreatifnya dalam menulis. Selain menjadi penulis, Sasti juga aktif sebagai kurator dan editor film. Ia menjelaskan bahwa pengalaman bekerja di puskesmas selama bertahun-tahun turut menjadi bagian dari proses riset yang kemudian memengaruhi karya-karyanya.
Sasti mengungkapkan bahwa dirinya mulai serius menulis sastra pada 2019. Pengalaman masa kecil ketika pertanyaan-pertanyaannya justru dianggap tidak semestinya disampaikan menjadi salah satu titik yang membentuk cara pandangnya terhadap tulisan.
“Pertanyaan bisa disampaikan melalui cerita,” katanya.
Menurut Sasti, pertanyaan dan pencarian kebenaran merupakan bagian penting dalam proses kreatif. Ia tidak selalu memandang jawaban tunggal sebagai tujuan utama sebuah karya. Sebaliknya, pertanyaan dapat menjadi bahan bakar yang membuat cerita terus berkembang dan mengajak pembaca memikirkan kembali berbagai persoalan kemanusiaan.
Hal tersebut juga terlihat dalam Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu. Sasti mengajak pembaca mempertanyakan kembali persoalan kebenaran, keadilan, dan bagaimana manusia memandang sebuah peristiwa. Ia mencontohkan kisah seekor gajah yang harus menghadapi hukuman setelah menginjak seorang anak, sementara perilaku dan konteks tindakan anak tersebut juga dapat dipertanyakan.
“Bagi saya, pertanyaan lebih penting daripada jawaban tunggal,” jelasnya.
Dalam proses menemukan gagasan, Sasti mengatakan bahwa cerita dapat lahir dari berbagai sumber, mulai dari artikel, sejarah, foto, hingga pertemuan dengan orang lain. Ia juga kerap memulai proses menulis dari sebuah pertanyaan.
Salah satu cerpennya, Batavia yang Tak Sesuai Rencana Lucretia, yang juga diterbitkan di Kompas, berangkat dari sebuah epitaf makam perempuan Mardjiker pada masa kolonial. Fakta sejarah tersebut kemudian dikembangkan melalui pertanyaan mengenai perempuan, cinta, keluarga, pengorbanan, dan impian.
Dalam membangun karakter, Sasti memandang tokoh sebagai manusia yang utuh. Ia menggunakan tiga dimensi karakter, yaitu fisik, psikologis, dan sosiologis. Karena itu, tokoh dalam ceritanya tidak ditempatkan semata-mata sebagai karakter “baik” atau “buruk”, melainkan memiliki masa lalu, keinginan, konflik, dan kemungkinan masa depan.
Ia juga menerapkan metode “wawancara imajiner” untuk membuat karakter terasa lebih hidup.
“Tokoh bagi saya adalah manusia yang nyata, berdarah dan berdaging,” ujarnya.
Sasti turut membagikan proses penyuntingan yang dilakukannya setelah menyelesaikan draf pertama. Ia menyebut draf pertama sebagai tulisan yang masih sangat terbuka untuk diperbaiki. Setelah draf selesai, ia biasanya mengendapkan tulisan selama beberapa hari sebelum kembali menyuntingnya. Pada tahap akhir, ia berusaha membaca tulisan bukan lagi sebagai penulis, tetapi sebagai pembaca.
Diskusi kemudian berkembang melalui sejumlah pertanyaan dari peserta. Etrin Klisemase, mahasiswa Sastra Indonesia, menceritakan keinginannya untuk menjadi penulis sekaligus rasa takut terhadap kritik. Menanggapi hal tersebut, Sasti menekankan bahwa kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses menjadi penulis.
Ia juga membagikan pengalamannya ketika karya-karya awalnya mendapat kritik karena struktur tulisan yang dianggap belum baik. Kritik tersebut justru menjadi bagian dari proses belajarnya untuk terus berkembang.
“Kalau saya pendam, saya tidak akan bisa berkembang,” ungkapnya.
Peserta lainnya, Julia Pattisurlion dari IAKN, mempertanyakan bagaimana mengembangkan kebiasaan menulis diary menjadi karya sastra serta apakah sebuah cerita harus memiliki konflik besar agar menarik bagi pembaca.
Sasti menjelaskan bahwa konflik dalam cerita tidak harus selalu besar atau meledak-ledak. Konflik sederhana dapat memiliki daya emosional yang kuat ketika dibangun melalui karakter dan premis yang kuat. Menurutnya, penulis perlu memahami apa yang diinginkan karakter dan hambatan apa yang dihadapinya.
Untuk mendukung proses kreatif, Sasti juga memiliki “bank diksi” dan “bank premis” yang ia simpan di ponselnya. Ia mendorong peserta untuk memperbanyak membaca, termasuk cerpen, puisi, dan esai, sebagai cara memperkaya kosakata serta menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menulis.
Diskusi juga menyinggung perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia penulisan. Dirly, mahasiswa UIN A.M. Sangadji, mempertanyakan perbedaan substansial antara karya manusia dan tulisan yang dihasilkan AI.
Sasti menilai bahwa AI dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi tidak semestinya menggantikan proses berpikir dan pengalaman manusia dalam menciptakan karya.
“Gunakan AI, jangan untuk mengganti otak kita,” tegasnya.
Menurut Sasti, pengalaman manusia, emosi, serta ketidaksempurnaan menjadi bagian penting dalam karya sastra. Karena itu, teknologi dapat dimanfaatkan secara kritis sebagai alat bantu, sementara gagasan, pengalaman, dan proses kreatif tetap menjadi bagian utama dari penulis.
Peserta lain, Rifaldi Banjar dari Sastra Indonesia, turut bertanya mengenai konsistensi menulis dan pilihan antara menyelesaikan tulisan dalam sekali duduk atau memberikan jeda dalam proses penulisan. Sasti menjelaskan bahwa menulis dalam sekali duduk dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga aliran emosi dan menghadapi writer's block. Ia juga mengingatkan penulis agar tidak terlalu cepat menyunting tulisan ketika proses kreatif masih berlangsung.
Sementara itu, Nur Ayun, peserta dari UIN, mempertanyakan bagaimana memulai tulisan ketika seseorang telah memiliki ide tetapi masih bingung menentukan langkah pertama. Sasti menjelaskan bahwa penulis dapat memulai dengan menentukan gagasan terlebih dahulu, meskipun gagasan tersebut masih bersifat abstrak, kemudian mengembangkannya secara bertahap menjadi cerita.
Rangkaian kegiatan Semesta Raya Sastra 1.0 kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Munir Wael, yang akrab disapa Kak Ile.
Melalui kegiatan ini, Timur Menulis menghadirkan ruang pertemuan antara penulis, pembaca, mahasiswa, dan pegiat sastra untuk membicarakan proses kreatif, pengalaman membaca, serta berbagai persoalan yang dapat lahir dari karya sastra. Diskusi juga menjadi ruang bagi peserta untuk melihat bahwa sastra tidak hanya berbicara mengenai cerita, tetapi juga tentang pertanyaan, pengalaman manusia, sejarah, budaya, dan cara memahami kehidupan melalui bahasa. ZNG