Rahel Ngabalin Pengurus Kopri PB PMII asal Maluku

Rahel Ngabalin Apresiasi Polda Metro Jaya dan Umar Kei dalam Kasus Kesya Dwi Aprilia: Perempuan Kei Berhak atas Keadilan dan Pemakaman yang Layak

35

JAKARTA 14/10/26— Pengurus KOPRI Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Rahel Ngabalin, menyampaikan apresiasi kepada Polda Metro Jaya atas penanganan kasus pembunuhan terhadap Kesya Dwi Aprilia (KDA), perempuan muda asal Kepulauan Kei, Maluku, yang ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar indekos di kawasan Pinang Ranti, Jakarta Timur.

Rahel menilai pengungkapan kasus ini merupakan langkah penting dalam upaya menghadirkan keadilan bagi korban. Ia berharap proses hukum terhadap para tersangka terus berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel, sehingga keluarga serta masyarakat yang mengikuti perkembangan kasus ini memperoleh kepastian hukum.

Berdasarkan pemberitaan ANTARA, kepolisian telah menangkap dua tersangka yang diduga terlibat dalam pembunuhan terhadap korban. 

Namun, menurut Rahel, perjuangan untuk menghormati Kesya tidak berhenti pada proses penegakan hukum. Ada tanggung jawab kemanusiaan yang juga harus dipenuhi, yakni memastikan almarhumah mendapatkan pengurusan jenazah dan pemakaman yang layak.

Umar Kei dan Komitmen Menjaga Martabat Perempuan Evav

Rahel juga mengapresiasi langkah Ketua Umum Forum Pemuda Muslim Maluku (FPMM), Umar Kei, yang menurut informasi yang diterimanya bersedia membantu proses pemakaman almarhumah Kesya di kediamannya.

Bagi Rahel, kepedulian tersebut merupakan bentuk nyata solidaritas kepada sesama orang Evav, terutama ketika seorang perempuan muda harus menghadapi akhir kehidupannya tanpa kehadiran keluarga inti yang mendampinginya.

"Bagi saya, kepedulian Bang Umar Kei dalam membantu memastikan almarhumah Kesya mendapatkan tempat peristirahatan terakhir yang layak merupakan sikap kemanusiaan yang patut diapresiasi. Ini bukan semata-mata tentang membantu pemakaman, melainkan tentang menjaga martabat seorang perempuan Kei agar ia tidak kehilangan haknya untuk mendapatkan penghormatan terakhir," ujar Rahel Ngabalin.

Ia menegaskan bahwa perempuan Kei merupakan bagian penting dari identitas, sejarah, dan masa depan masyarakat Evav. Karena itu, menjaga perempuan Kei tidak cukup hanya disampaikan melalui slogan atau pernyataan solidaritas, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk ketika mereka berada dalam situasi paling rentan dan membutuhkan pertolongan.

Menurutnya, komitmen menjaga harkat dan martabat perempuan Evav harus melampaui batas geografis. Perempuan Kei yang merantau ke Jakarta, tinggal di kota lain, ataupun berada jauh dari tanah kelahirannya tetap memiliki hak untuk memperoleh perlindungan, kepedulian, dan penghormatan sebagai manusia.
"Perempuan Evav tidak boleh merasa sendirian hanya karena sedang jauh dari tanah kelahirannya. Ketika ada saudari kita yang membutuhkan pertolongan, solidaritas harus hadir dalam tindakan. Kita tidak boleh membiarkan persoalan jarak, hilangnya komunikasi dengan keluarga, atau keterbatasan keadaan membuat seorang perempuan kehilangan haknya untuk diperlakukan secara bermartabat," lanjutnya.

Solidaritas Tidak Boleh Berhenti pada Identitas

Rahel menilai peristiwa yang menimpa Kesya juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya komunitas perantau, organisasi kepemudaan, dan organisasi perempuan, tentang pentingnya membangun jejaring kepedulian bagi sesama.

Berdasarkan informasi yang beredar, Kesya menjalani kehidupannya secara mandiri di Jakarta setelah melalui berbagai perubahan dalam kehidupan keluarganya. Ketika kabar kematiannya mencuat, perhatian masyarakat kemudian tertuju pada upaya menemukan keluarga yang dapat membantu pengurusan jenazahnya.


Rahel menyampaikan penghargaan kepada masyarakat, mahasiswa asal Maluku, dan pihak-pihak yang telah berupaya membantu menghubungkan informasi serta mengupayakan penghormatan terakhir bagi almarhumah.

Ia berharap peristiwa ini mendorong komunitas masyarakat Kei di perantauan untuk memperkuat komunikasi dan kepedulian sosial, sehingga tidak ada lagi anggota komunitas yang harus menghadapi situasi sulit tanpa dukungan yang memadai.


Baginya, solidaritas bukan sekadar ikatan darah atau kesamaan asal daerah, melainkan kesediaan untuk hadir ketika sesama membutuhkan pertolongan.

Keadilan bagi Korban dan Penghormatan bagi Almarhumah
Sebagai bagian dari gerakan perempuan, Rahel juga menegaskan pentingnya menempatkan korban sebagai manusia yang memiliki martabat dan hak untuk mendapatkan keadilan.

Ia berharap penanganan perkara Kesya dilakukan secara tuntas oleh aparat penegak hukum, sementara proses pengurusan dan pemakaman jenazahnya dapat dilaksanakan dengan layak melalui koordinasi bersama pihak berwenang dan keluarga yang berhasil dihubungi.

Rahel mengingatkan bahwa penghormatan terhadap perempuan tidak boleh berhenti pada saat mereka masih hidup. Martabat seorang perempuan tetap harus dijaga ketika ia telah meninggal dunia, termasuk melalui perlakuan yang manusiawi terhadap jenazahnya dan penghormatan terhadap hak-hak terakhirnya.

"Kami mengapresiasi setiap pihak yang bergerak membantu Kesya, termasuk langkah Bang Umar Kei yang diinformasikan bersedia memfasilitasi pemakaman almarhumah. Kami berharap kepedulian ini menjadi pengingat bahwa menjaga perempuan Kei adalah tanggung jawab bersama. Perempuan Evav berhak hidup dengan aman, mendapatkan keadilan ketika menjadi korban kekerasan, dan memperoleh penghormatan yang layak hingga akhir hayatnya," tegas Rahel.
Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mengawal proses hukum kasus Kesya Dwi Aprilia, memperkuat solidaritas antarsesama orang Kei, dan membangun lingkungan sosial yang lebih peduli terhadap keselamatan serta martabat perempuan.

Kesya mungkin telah berpulang, tetapi tanggung jawab kita untuk memperjuangkan keadilan dan menjaga martabat perempuan tidak boleh ikut berhenti.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga almarhumah Kesya Dwi Aprilia mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga serta seluruh pihak yang ditinggalkan diberikan kekuatan.