Ketua Timur Menulis, Soleman Pelu saat memberikan Sambutan dan Membuka Kegiatan

Sastra, Sejarah dan Ingatan Kolektif: Semesta Raya Sastra 1.0 Hadirkan Diskusi Novel Laut Bercerita di Ambon

50

Ambon, 19 September 2026Timur Menulis melaksanakan Rangkaian kegiatan Semesta Raya Sastra 1.0 “Sastra dan Budaya Timur Indonesia” yang berlangsung di Auditorium George de Fretes RRI Ambon, Sabtu (19/9). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra, Kementerian, Direktorat Jenderal Pengembangan dan Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

Pada sesi pagi, kegiatan diisi dengan Bedah Buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori dengan menghadirkan Dr. Falantino Eryk Latupapua, S.Pd., M.Pd., akademisi Universitas Pattimura, dan Zairin Salampessy/Embong Salampessy, jurnalis senior sekaligus pekerja perdamaian. Diskusi dipandu oleh Vinny Noya, penyiar RRI Ambon.

Dalam pembukaannya, Ketua Timur Menulis, Soleman Pelu, menjelaskan bahwa Semesta Raya Sastra 1.0 merupakan pijakan awal bagi gerakan literasi yang berkelanjutan. Konsep “Semesta” dimaknai sebagai ruang imajinasi dan kearifan, sementara “Raya” menjadi simbol perayaan yang meriah dan inklusif bagi insan literasi.

Diskusi kemudian mengulas Laut Bercerita bukan semata sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai medium untuk membaca kembali sejarah, pengalaman manusia, serta ingatan sosial. Dari perspektif akademik, Dr. Falantino Eryk Latupapua menyoroti bagaimana Leila S. Chudori menggunakan bahasa yang lugas dan kuat dalam merepresentasikan realitas sejarah. Novel tersebut juga mendorong pembaca untuk tidak berhenti pada pertanyaan, tetapi mengikuti proses pencarian dan memahami sejarah melalui perspektif yang lebih kritis.

Salah satu pembahasan penting dalam sesi tersebut adalah hubungan antara sastra dan sejarah. Sastra memiliki karakter imajinatif, sementara sejarah berangkat dari fakta. Namun, diskusi menekankan bahwa pengalaman manusia tidak selalu sepenuhnya terwakili oleh narasi sejarah resmi. Karena itu, sastra dapat menjadi salah satu ruang untuk menghadirkan suara, pengalaman, dan ingatan yang selama ini berada di luar narasi dominan.

“Sastra bekerja ketika manusia hilang, namun ingatan perlu tetap hidup dan terwariskan,” menjadi salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam pembahasan.

Dari perspektif jurnalisme, Embong Salampessy melihat karya Leila sebagai bentuk pertemuan antara sastra dan kerja jurnalistik dalam merekam realitas. Pembahasan kemudian berkembang pada peran jurnalisme dalam mencatat sejarah, terutama ketika kebebasan pers mengalami tekanan. Sastra dan jurnalisme dipandang dapat menjadi ruang untuk merajut kembali kebenaran dan pengalaman manusia di tengah kabut impunitas.

Konteks pembahasan kemudian ditarik lebih dekat dengan pengalaman masyarakat Maluku. Diskusi menyinggung bagaimana peristiwa sosial dan konflik yang terjadi di Maluku pada 1999 meninggalkan luka serta ingatan yang diwariskan lintas generasi. Dalam konteks tersebut, muncul pertanyaan mengenai bagaimana sastra dan jurnalisme lokal dapat menjadi medium untuk merawat ingatan kolektif sekaligus membuka ruang bagi suara-suara masyarakat yang mengalami trauma.

Peserta juga mendiskusikan bagaimana generasi muda dapat membicarakan sejarah dan konflik Maluku tanpa mengabaikan pengalaman serta trauma masyarakat. Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta dari komunitas taman baca mempertanyakan bagaimana seseorang yang bukan berasal dari Maluku dapat memasuki percakapan tentang konflik tanpa menghilangkan pengalaman dan trauma masyarakat Ambon.

Menanggapi hal tersebut, para narasumber menekankan pentingnya kemampuan mendengarkan, literasi budaya kritis, seni, dan sastra sebagai jalan untuk membuka percakapan yang lebih kontekstual. Seni dan sastra dinilai dapat menjadi ruang yang lebih halus untuk membicarakan pengalaman sosial yang kompleks sekaligus membuka kemungkinan munculnya narasi dari bawah atau bottom-up.

Diskusi juga menyinggung pentingnya memberi ruang bagi masyarakat untuk menulis dan menceritakan pengalaman mereka sendiri. Jika belum mampu menulis dalam bentuk panjang, peserta didorong untuk memulainya melalui cerita pendek maupun bentuk karya lainnya.

Pada akhir sesi, moderator menyimpulkan bahwa melalui Laut Bercerita, peserta tidak hanya diajak membaca sejarah, tetapi juga belajar bagaimana sejarah diingat, didokumentasikan, dan diwariskan melalui karya sastra.

“Merajut memori, membangun damai” menjadi salah satu refleksi yang mengemuka dalam sesi pagi Semesta Raya Sastra 1.0.

Melalui rangkaian Semesta Raya Sastra 1.0, Timur Menulis berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai ruang pertemuan dan diskusi sastra semata, tetapi dapat menjadi ruang yang terus mempertemukan pembaca, penulis, akademisi, jurnalis, komunitas, serta generasi muda untuk membaca kembali berbagai pengalaman sosial dan sejarah melalui karya sastra.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan sastra sekaligus mendorong lahirnya ruang-ruang dialog yang lebih kritis, terbuka, dan inklusif. Sastra diharapkan tidak hanya menjadi karya untuk dinikmati, tetapi juga menjadi medium untuk merawat ingatan, memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini kurang terdengar, serta mewariskan pengalaman antargenerasi.

Dalam konteks Maluku, ruang-ruang seperti ini diharapkan dapat terus berkembang sebagai bagian dari upaya merawat ingatan kolektif, memperkuat literasi budaya, dan membangun percakapan yang lebih manusiawi tentang sejarah dan pengalaman masyarakat.

Sesi pagi berakhir pada pukul 11.38 WIT. Rangkaian kegiatan Semesta Raya Sastra 1.0 masih akan berlanjut pada sesi siang dengan diskusi puisi bersama Weslly Johannes, dilanjutkan sesi tanya jawab, musikalisasi puisi oleh SMA Negeri 1 Ambon, serta penutupan rangkaian diskusi. Susunan acara resmi mencatat sesi siang berlangsung mulai pukul 13.00 WIT hingga 15.30 WIT.

Semesta Raya Sastra 1.0 sendiri merupakan bagian dari program Timur Menulis yang difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dengan agenda yang mencakup distribusi buku sastra, diskusi dan bedah buku, serta rangkaian kegiatan sastra dan sejarah. ZNG 

Foto bersama peserta dan narasumber diskusi novel "Laut Bercerita"