Samil Rahareng, Ketimpangan Kesejahteraan Dosen Jadi Alarm Serius bagi Indonesia Emas 2045

1

Ambon, ZonaMaluku — 4 July 2026, Ketua  Bidang Perguruan Tinggi Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Ambon, Samil Rahareng, menyoroti persoalan ketimpangan kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia setelah mencuatnya pengakuan seorang dosen Universitas Airlangga, Dr. Cenuk Widiyastrisna, yang mengungkapkan hanya menerima gaji sebesar Rp2,6 juta per bulan meski berstatus lulusan doktor (S3) dari luar negeri.

Menurut Samil, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kualitas akademik dan kapasitas intelektual di Indonesia belum sepenuhnya dihargai secara layak. Ia menilai bahwa persoalan ini menunjukkan adanya ketimpangan struktural dalam tata kelola pendidikan tinggi, khususnya pada aspek kesejahteraan dosen.

“Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan pendidikan, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia jika kesejahteraan dosen saja masih jauh dari kata layak? Ini bukan hanya soal angka gaji, tetapi soal penghargaan terhadap ilmu pengetahuan,” tegas Samil.

Samil mengaitkan persoalan ini dengan cita-cita besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, visi tersebut menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi utama. Namun, hal itu tidak akan tercapai jika negara masih abai terhadap kesejahteraan para pendidik sebagai penggerak utama pendidikan tinggi.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan merupakan upaya memanusiakan manusia dan membangun peradaban bangsa. Dalam perspektif ini, dosen dan guru bukan hanya pekerja administratif, melainkan pilar utama transformasi sosial dan intelektual.

Selain itu, Samil juga menyinggung pemikiran Paulo Freire, yang melihat pendidikan sebagai instrumen pembebasan dan kesadaran kritis. Menurutnya, pendidikan yang berkualitas hanya dapat berjalan apabila tenaga pendidik diberikan ruang, penghargaan, dan kesejahteraan yang memadai.

“Jika kita ingin membangun generasi emas 2045, maka dosen tidak boleh hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Sulit membayangkan lahirnya inovasi, riset unggulan, dan daya saing global jika kesejahteraan tenaga pendidik masih terpinggirkan,” ujar Samil.

Ia menilai, bonus demografi yang kerap disebut sebagai peluang besar menuju 2045 justru dapat berubah menjadi ancaman apabila negara tidak serius membangun ekosistem pendidikan yang sehat, adil, dan berpihak pada tenaga pendidik.

Lebih lanjut, Samil menegaskan bahwa ketimpangan kesejahteraan dosen berpotensi melemahkan semangat generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral, sebab realitas yang terjadi menunjukkan belum adanya kepastian penghargaan yang sepadan dengan perjuangan akademik.

Atas dasar itu, PC IMM Kota Ambon mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengupahan dosen di Indonesia agar lebih adil, proporsional, dan berbasis kualitas.

Samil menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi peradaban. Oleh karena itu, para pendidik harus ditempatkan pada posisi yang bermartabat, sejahtera, dan mendapatkan penghormatan yang layak demi memastikan cita-cita Indonesia Emas 2045 benar-benar dapat terwujud.(ZM)